5 Contoh Investasi Jangka Panjang yang Paling Populer

5 Contoh Investasi Jangka Panjang yang Paling Populer

Investasi merupakan salah satu aspek terpenting dari sistem manajemen keuangan pribadi. Dengan berinvestasi, Anda bisa mendapatkan passive income yang nantinya bisa digunakan untuk berbagai hal.

Mulai dari modal untuk membeli rumah, membayar biaya pendidikan anak di masa depan, hingga menjadi dana pensiun agar hari tua Anda lebih nyaman. Berikut adalah 5 contoh investasi jangka panjang yang paling populer:

Apa Saja Contoh Investasi Jangka Panjang yang Paling Populer?

1. Deposito

Deposito ini mirip dengan tabungan. Rendahnya resiko membuat deposito banyak dipilih oleh investor pemula. Tetapi jika dibandingkan dengan tabungan, ada dua hal yang membedakannya, yaitu tingkat bunga dan waktu jatuh tempo.

Bunga deposito lebih tinggi dari bunga tabungan biasa. Bunganya berada pada kisaran 5-6% per tahun. Ada juga beberapa bank yang menawarkan bunga lebih dari 6%. Semakin banyak uang yang Anda investasikan, maka semakin tinggi bunga deposito.

Meskipun mempunyai tingkat bunga yang lebih tinggi, uang yang Anda investasikan dalam deposito tidak dapat ditarik sewaktu-waktu seperti halnya tabungan. Ada tenor yang sudah mengikat. Sebelum deposit jatuh tempo, Anda tidak bisa mengambilnya.

2. Emas

Bagi Anda yang lebih tertarik dengan jenis investasi fisik dengan nilai intrinsik yang lebih jelas, emas dapat menjadi pilihan yang cukup menarik. Seperti halnya deposito, resiko investasi emas lebih rendah. Nilainya lebih stabil juga terus meningkat setiap tahunnya.

Jika Anda ingin berinvestasi emas, pilih emas batangan. Berbeda dengan perhiasan emas, nilai emas batangan dinilai dari beratnya. Anda juga perlu menyiapkan tempat untuk menyimpan emas yang sudah dibeli.

3. Properti

Investasi properti mempunyai beberapa kesamaan dengan investasi emas. Ada benda fisik yang dibeli di sini. Nilainya dipastikan terus meningkat tanpa banyak fluktuasi. Selain itu, resikonya juga lebih rendah.

Ada beberapa model investasi properti yang biasanya digunakan. Cara paling sederhana adalah dengan membeli tanah, membangun properti di atasnya dan menjualnya saat harganya dianggap cukup tinggi.

Adapun cara kedua, Anda dapat menyewakan properti untuk mendapatkan aliran pendapatan. Jangan lupa mempertimbangkan resiko seperti kerusakan bangunan. Walaupun resiko investasi ini relatif rendah, properti merupakan aset yang dapat rusak seiring waktu.

4. Saham

Saham sebenarnya ialah bukti kepemilikan suatu perusahaan. Saat Anda membeli saham, pada dasarnya Anda membeli sebagian kepemilikan di perusahaan yang menerbitkannya. Jadi semakin banyak saham yang Anda beli, semakin besar persentase kepemilikan perusahaan yang didapatkan.

Pengembalian investasi saham umumnya berasal dari dividen dan pertumbuhan nilai saham itu sendiri. Dividen sendiri diambil dari hasil yang diperoleh perusahaan. Namun, harus dicatat bahwa tidak semua perusahaan membagikan dividen kepada investornya.

5. Peer to Peer Lending

Jenis investasi peer to peer lending masih tergolong baru di Indonesia. Tetapi popularitasnya terus melambung seiring dengan kejelasan hukum dan kemudahan yang ditawarkannya.

Hal ini terlihat dari banyaknya perusahaan fintech lending yang telah menjalankan model bisnis ini. Jumlah uang yang berputar dalam investasi peer to peer lending juga terus meningkat. Dalam p2p lending, pada dasarnya Anda meminjamkan sejumlah uang kepada pihak yang membutuhkan, baik itu perorangan atau badan usaha.

Sama seperti pinjaman dari bank, pengembalian investasi jenis ini berasal dari bunga pinjaman yang sudah disepakati bersama. Banyak fintech lender yang menawarkan suku bunga pinjaman hingga 18% per tahun.

6. Reksa Dana

Apa itu reksa dana? Secara sederhana, reksa dana adalah instrumen investasi di mana dana dari beberapa investor dikumpulkan bersama dan kemudian diinvestasikan dalam instrumen investasi di pasar modal.

Reksa dana dibagi menjadi 5 jenis. Lima jenis reksa dana tersebut antara lain reksa dana pasar uang, reksa dana saham, reksa dana pendapatan tetap, reksa dana campuran, dan reksa dana indeks.

Setiap jenis reksa dana mempunyai potensi dan resiko yang berbeda-beda. Untuk resiko terendah ada reksa dana pasar uang. Sedangkan untuk potensi hasil terbesar dengan resiko yang tidak kalah tinggi, Anda bisa memilih reksa dana saham.

Leave a Reply

Your email address will not be published.